Jual Plastik Mulsa Tambak Harga Murah Udang Vanname Fanami Vannami

Bibit Udang Vaname Yang Bermutu



Benih udang (benur) di tambak dapat diperoleh dari hasil tangkapan alam atau hasil pemijahan di tempat pemijahan benih (hatchery). Benih hasil tangkapan alam biasanya memiliki mutu yang baik tetapi kontinuitas dan jumlahnya tidak memadai. Karena itu, diperlukan hatchery untuk memproduksi benih. Hatchery penghasil benih udang vaname terdiri atas hatchery skala besar yang dikelola oleh perusahaan pembibitan dan hatchery skala kecil atau skala rumah tangga yang dikelola oleh perorangan atau kelompok.

Penggunaan benih yang baik dan sehat akan menentukan keberhasilan usaha budi daya udang vaname di tambak sistem intensif. Selain itu, makanan yang diberikan kepada induk juga berpengaruh terhadap mutu benih yang dihasilkan. Benih yang baik dan sehat dapat diperoleh dari hatchery yang memiliki kredibilitas baik. Sementara itu, benih yang kurang baik atau tidak sehat umumnya berasal dari hatcheryyang secara teknis tidak ditangani secara benar dan menyimpang dari aturan yang ada, misalnya menggunakan induk yang sudah tua (apkir) atau induk yang terlalu muda.

Menurut Nurjana (1990), usaha memproduksi benur yang baik dan sehat bisa ditempuh dengan memperbaiki mutu telur udang, memperbaiki sistem pemeliharaan larva, dan memperbaiki pemeliharaan pascalarva. Upaya perbaikan telur yang dihasilkan oleh induk udang vaname dimulai sejak calon induk dipelihara di dalam bak perkawinan. 

Biasanya, induk yang dipijahkan dengan cara ablasi (pemencetan salah satu mata) menghasilkan telur yang berprotein lebih tinggi daripada induk masak telur dari alam. Induk yang dipijahkan di hatchery umumnya berupa induk ablasi Kandungan lemak pada telur induk masak telur dari alam lebih banyak daripada induk ablasi Kandungan lemak yang tinggi inilah yang harus dimiliki oleh telur yang berkualitas karena dari proses embrio genesis (terbentuknya embrio), 84% energi yang diperlukan diperoleh dari metabolisme lemak. Jenis makanan yang dapat memenuhi kebutuhan induk ablasiterhadap lemak adalah kepiting, rajungan, cumi, kerang, dan cacing. 

Biasanya, hatchery yang dikelola secara profesional sudah menerapkan metode ini. Upaya lain meningkatkan mutu dan kesehatan benur adalah dengan mengurangi dosis pemberian pakan buatan pada benur dan meningkatkan pemberian pakan alami. Pemberian pakan alami, baik fitoplankton maupun artemia, dapat menjaga keseimbangan biologis dalam medium pemeliharaan larva. Sementara itu, pemberian pakan buatan cenderung menurunkan kualitas air media, terutama jika terjadi penumpukan sisa pakan sehingga benur yang diberi pakan buatan dengan porsi yang lebih besar memiliki kualitas yang kurang baik.

Pembelian benur yang mengandung obat kimia, terutama antibiotika perlu dihindari karena penggunaan obat hanya memberikan pengaruh baik ketika larva masih berada di dalam hatchery. Namur, setelah dipelihara di tambak, benih akan sulit beradaptasi dengan lingkungan yang baru, bahkan sering terjadi kematian yang tinggi pada benur. Penggunaan hormon steroid yang memacu pertumbuhan dan meningkatkan kelangsungan hidup larva juga hanya memberikan hasil yang baik ketika benur masih berada di dalam hatchery. Setelah ditebar ke tambak, kondisi benur banyak yang lemah dan pertumbuhannya lambat, akibatnya udang menjadi kuntet (kerdil).

Selain itu, ada juga hatchery udang vaname yang memelihara larva pada suhu tinggi dan konstan dengan tujuan menekan mortalitas larva serendah mungkin. Jika ditebar ke tambak, kemampuan benur dari hatchery beradaptasi dengan lingkungan tambak menjadi rendah karena suhu dan salinitas tambak selalu fluktuatif. Akibatnya, kondisi benur cenderung melemah. Benur yang terlalu lama dipelihara di dalam ruang tertutup (indoor) juga sulit beradaptasi dengan cepat jika ditebar ke tambak karena benur tidak terbiasa dengan kondisi di areal terbuka (outdoor) seperti kondisi di tambak.

Karena itu, menurut Nurjana (1990), benur dari hatchery skala rumah tangga atau teknologi backyard hatchery lebih mudah beradaptasi dengan kondisi tambak karena pembenihan dengan backyard hatchery dilakukan tanpa penggantian air. 

Dengan sistem tersebut, benur sudah terbiasa dengan kondisi air yang kurang baik sehingga setelah ditebar ke dalam tambak yang kondisinya tidak jauh berbeda atau bahkan tidak lebih baik dibandingkan dengan kondisi di tempat pembenihan, larva lebih mudah beradaptasi sehingga mortalitasnya dapat ditekan. 

Upaya lain untuk nenekan mortalitas larva adalah dengan memilih benih yang ierasal dari hatchervyang periode pemeliharaan indoor dan pemeliharaan outdoor-nya lebih lama. Sistem pembenihan kala rumah tangga menerapkan teknologi tersebut.