Jual Plastik Mulsa Tambak Harga Murah Udang Vanname Fanami Vannami

Bagaimana Prospek Budidaya Udang Vaname

Sampai saat ini udang vannamei masih menjadi komoditas perikanan yang memiliki peluang usaha cukup baik karena sangat digemari konsumen lokal (domestik) dan konsumen luar negeri. Hal ini disebabkan oleh rasa udang vannamei yang enak dan gurih serta kandungan gizinya yang sangat tinggi. Daging udang vannamei diperkirakan mengandung 90% protein. Menurut Hirota (1990), protein dalam daging udang mengandung asam amino esensial cukup lengkap. Keunggulan udang vannamei lainnya adalah kandungan lemaknya hanya sedikit.

Di pasaran, udang vannamei yang dipilih sebagai udang konsumsi berasal dari udang yang masih segar, udang beku, udang kupas beku (tanpa kepala), dan udang olahan. Udang tersebut tersedia dalam bentuk kalengan atau bentuk olahan lainnya. Udang segar lebih banyak dipasarkan di dalam negeri (domestik), sementara udang beku umumnya dipasarkan ke luar negeri (ekspor).

Ketertarikan konsumen terhadap udang vannamei tidak sebatas pada rasa dagingnya yang lezat. Limbah dari bagian tubuh udang vannamei juga menjadi daya tank tersendiri. Bagian kepala dan cangkangnya (carapace) bisa memberi nilai tambah yang cukup berarti. Limbah kulit udang ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai industri, seperti industri farmasi, kosmetika, pangan, dan tekstil. Salah satu kandungan kulit udang yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku industri adalah chitin dan chitosan (senyawa turunan dari chitin). kulit udang mengandung chitin 60% dari berat keringnya.

Pasar utama chitin di dunia adalah Jepang, Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman. Lokasi budi daya udang vannamei secara intensif adalah di sepanjang pantai. Dari 108.000 km panjang pantai yang dimiliki Indonesia, sebagianbisa dimanfaatkan untuk budi daya udang, terutama di wilayah pesisir. Lokasi paling potensial untuk budi daya udang vannamei adalah pesisir timur Pulau Sumatera (Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, dan Lampung), pesisir utara Pulau Jawa (pantura), pesisir Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara, Sulawesi, serta Papua.