Jual Plastik Mulsa Tambak Harga Murah Udang Vanname Fanami Vannami

Program Prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)

Salah satu program prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam meningkatkan produksi udang adalah melakukan inovasi pembudidayaan udang, termasuk didalamnya  penggunaan teknologi plastik mulsa (plastik tipis) di terutama kawasan pantai utara Jawa (Pantura). Sebelumnya pembudidaya udang menggunakan cara tradisional berupa tambak tanah.

 

TEKNOLOGI PLASTIK MULSA 

Pertama kali diterapkan  di Kabupaten Subang tahun  2009, dan  kemudian ditiru daerah-daerah lain, yakni  Kabupaten  Indramayu, Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal, Kabupaten Lamongan, dan lain-lain. Tahun 2012 penggunaan teknologi plastik mulsa mulai digalakan, karena hasilnya jauh lebih besar daripada menggunakan cara tradisional. Dengan teknologi  plastik mulsa lapisan bawah dan pinggir tambak dilapisi plastik, sehingga udang yang dibudidayakan terbebas dari serangan bakteri dan bisa tumbuh dengan pesat. Produksi  udang  meningkat hingga 400% dari rata-rata 5-10 ton/ha menjadi 20-30 ton/ha.

Keberhasilan budidaya udang sangat bergantung pada kualitas air dan komposisi yang seimbang dari kepadatan bakterinya. Pada umumnya tambak di Indonesia  konstruksinya berupa tambak tanah atau semen. Dengan pola pengelolaan budidaya tradisional (pada tebar rendah), biaya investasi dan pengelolaan konstruksi tambak tanah relatif rendah. Hanya saja, tambak tanah cenderung membuat udang rentan terserang penyakit, apalagi dengan tata ruang dan pengairan tambak yang asal-asalan dan ujung-ujungnya produktivitas udang menurun.  Sedangkan dengan menggunakan teknologi plastik keuntungan yang diperoleh adalah pertumbuhan bobot udang lebih baik dibandingkan dengan tambak tanah atau semen. Selain itu, inovasi penggunaan plastik mulsa juga dapat meminimalisasi kegagalan panen.
Dengan menggunakan  teknologi plastik mulsa angka harapan hidup udang lebih tinggi yang mencapai 85% – 90%,  jauh dibanding menggunakan cara tradisional yang hanya 20% – 25%. Keuntungan lain penggunaan plastik mulsa adalah pertumbuhan udang bisa mencapai 2 gram sampai 2,5 gram per ekor per minggu, sedangkan jika cara tradisional pertumbuhan maksimal hanya sekitar 1,2 gram sampai 1,5 gram per ekor per minggu. Selain itu dengan inovasi baru dilakukan penerangan listrik  di tambak selama 24 jam dan rutin memberikan makanan pada udang.

Biaya produksi pembudidayaan udang  dengan menggunakan teknologi plastik mulsa sebesar Rp 600 juta/ha untuk sekali panen dengan hasil sekitar Rp 800 juta/ha, sehingga petani bisa mendapatkan keuntungan bersih hingga Rp 200 juta/hektar untuk sekali panen. Dengan demikian, jika dirata-ratakan untuk sekali panen yang memerlukan waktu 4 bulan, petani bisa mendapat keuntungan dari satu hektar tambak sekitar Rp 50 juta per bulan. Keuntungan ini, jauh lebih besar dibanding pembudidayaan secara tradisional, walaupun biaya produksinya lebih murah. Biaya produksi dengan cara tradisional rata-rata Rp 100 juta/ha dengan hasil panen Rp 150 juta/hektar. Dengan demikian, jika dirata-ratakan keuntungan per bulan untuk satu hektar tambak hanya Rp 12,5 juta. Fakta ini menunjukkan keuntungan bersih pembudidaya udang meningkat empat kali lipat, dibanding menggunakan cara tradisional. Keuntungan lainnya adalah, plastik yang dipakai dalam budidaya bisa digunakan dua kali periode budidaya dengan catatan harus berhati hati dalam menjaga/meminimalisasi kerusakan selama masa budidaya dan saat pemanenan.

Kabupaten Subang memiliki potensi lahan budidaya tambak  seluas kurang lebih 10.000 ha yang terletak di lima  kecamatan yaitu Blanakan, Pamanukan, Pusakanagara, Sukajadi dan Legonkulon, dari luas lahan tersebut, yang dimanfaatkan  sekitar 6.000 ha.

Subang  dipersiapkan menjadi daerah industri penghasil udang khususnya jenis vaname di Jawa Barat  dan juga pada tingkat nasional. Dijadikannya Subang sebagai daerah industri penghasil udang tidak terlepas dari program yang dicanangkan pemerintah melalui KKP dengan tujuan membangkitkan kembali masa keemasan tambak udang di daerah Pantura dan meningkatkan kembali produksi udang yang sempat  terpuruk.  Produksi udang di Subang tahun 2009 tercatat 3.143,50 ton, tahun 2010  sebanyak  2.004 ton, dan tahun 2011 sebanyak 2.106,72 ton. Anggaran revitalisasi sektor kelautan dan perikanan di Kabupaten Subang, termasuk di dalamnya untuk revitalisasi tambak udang, sebesar Rp 3,04 miliar tahun 2011 dan tahun 2012 naik menjadi Rp 4,4 miliar. Tenaga kerja yang terserap pada sektor perudangan mencapai 30.000 orang.

Sumber : http://www.setkab.go.id/pro-rakyat-5978-inovasi-pembudidayaan-udang-di-subang.html